
PM – Ambon (17/10/2026). Memasuki hari keempat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kodaeral IX terus berupaya meningkatkan api yang membakar kawasan hutan dan perkebunan warga, Sabtu (17/10/2026).
Personel Satgas Karhutla Kodaeral lX yang dipimpin Letda Laut (T) Arya Maulana Kampai dikerahkan untuk melakukan pemadaman di area terdampak yang diperkirakan mencapai lebih dari 10 hektare.
Kebakaran tersebut menghanguskan vegetasi hutan, termasuk pohon-pohon keras serta perkebunan masyarakat tanaman unggulan, seperti pala dan cengkeh.
Di tengah kondisi medan yang berat, upaya pemadaman dilakukan secara intensif untuk mengendalikan pergerakan api agar tidak meluas ke organisasi warga.
Satgas telah berhasil mengumpulkan api di area seluas kurang lebih dua hektar dan terus melanjutkan upaya pemadaman serta pemantauan di lokasi terdampak.
Tantangan utama yang dihadapi personel adalah keterbatasan akses terhadap sumber udara. Untuk memenuhi kebutuhan pemadaman, personel harus menempuh jarak sekitar 10 kilometer melalui medan berbukit dengan kontur terjal dan naik turun.
Di tengah situasi tersebut, dukungan masyarakat dan pemerintah Negeri Saleman menjadi penyemangat bagi personel yang bertugas. Warga juga membantu memadamkan api serta secara sukarela menyediakan makanan dan air mineral bagi para prajurit.
Kondisi kesehatan seluruh personel Satgas Kodaeral IX dilaporkan tetap baik meskipun harus bekerja di tengah medan yang sulit dan kondisi kebakaran yang belum sepenuhnya terkendali.
Harapan meredanya kebakaran juga muncul setelah kawasan Negeri Saleman diguyur hujan sebanyak tiga kali dalam empat hari terakhir, terutama pada sore hari. Meski demikian, upaya pemadaman dan pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan titik api benar-benar padam dan tidak menyala kembali.
Kepala Pemerintahan Negeri Saleman, MAA Makatita, mengungkapkan bahwa kebakaran tersebut menimbulkan dampak ekonomi yang merugikan masyarakat, terutama akibat kerusakan perkebunan pala dan cengkeh yang berpotensi menyebabkan gagal panen. Kerugian material diperkirakan mencapai lebih dari Rp10 miliar.
Secara terpisah, Komandan Kodaeral IX, Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, SH, MH, mengapresiasi dedikasi prajurit Satgas Karhutla serta kerja sama yang terjalin antara TNI AL, pemerintah negeri, dan masyarakat dalam penanganan kebakaran tersebut.
“Kami berharap seluruh warga Negeri Saleman diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini. Mari terus bergandengan tangan untuk mengatasi dan memitigasi Karhutla agar dampaknya tidak semakin meluas. Semoga musibah ini segera berlalu dan pemulihan kehidupan masyarakat di Pulau Seram dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keselamatan dan kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas dalam pelaksanaan tugas tersebut. Menurutnya, kehadiran Satgas Karhutla Kodaeral IX tidak hanya merupakan bagian dari tugas operasional, tetapi juga merupakan wujud kepedulian dan pengabdian TNI AL kepada masyarakat.
“Karhutla Penanggulangan bukan sekedar tugas operasional, melainkan juga misi kemanusiaan untuk melindungi keselamatan jiwa, menjaga ruang hidup masyarakat, dan memulihkan ketenangan warga,” tegasnya.
Melalui pengerahan Satgas Karhutla ini, Kodaeral IX menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu masyarakat dalam menghadapi bencana. Sinergi antara TNI AL, pemerintah setempat, dan warga diharapkan mampu mempercepat pengendalian kebakaran, meminimalkan kerugian, serta mendukung pemulihan lingkungan dan perekonomian masyarakat
(Yt)
